Terima kasih pada para moderator juga anggota milis beasiswa atas informasi, sharing dan testimonialnya yang membuat saya tetap memegang mimpi.
Akhirnya!
Tercapai juga akhirnya keinginan untuk meneruskan S2 ke luar negeri. Proses yang panjang dan memberikan pembelajaran tersendiri. Pada saat 'hati' berkata, seleksi beasiswa inilah yang terakhir akan saya jalani (terkait juga dengan umur yang semakin bertambah)bila ternyata ditolak, saya akan mencari jalan pengembangan diri yang lain. Tepat saat itu ternyata Tuhan menghendaki saya untuk lulus seleksi.
10 tahun penantian yang sangat berarti. Banyak pelajaran yang saya petik selama proses penantian itu. Pembelajaran yang terbesar adalah justru belajar sabar dan introspeksi diri. Pada setiap kegagalan saya mencoba mencari titik lemah dan memperbaikinya. Juga meluruskan niat agar pencarian beasiswa ini murni untuk mencari ilmu dan pengembangan diri, bukan sekedar mencari gelar.
Berbicara tentang niat. Banyak orang mengatakan bahwa PNS memiliki kesempatan yang lebih besar untuk diterima dalam proses seleksi beasiswa, terutama beasiswa Government to Government (G2G). Terus terang, ini menjadi salah satu faktor yang membuat saya mau menjadi guru dengan status PNS. Pikiran saya, tentunya dengan status PNS akan lebih mudah untuk mendapatkan beasiswa. Ternyata, bayangan saya sama sekali berbeda dengan kenyataan. Di institusi dimana saya bekerja untuk memperoleh ijin memasukkan aplikasi saja ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Di situ saya sempat berfikir apakah kesulitan ini saya alami justru karena niat awal saya yang tidak murni untuk mengajar. Tetapi yang pasti, sharing dan penguatan yang saya dapatkan dari milis beasiswa@yahoogroups.com, beberapa teman dan terutama suami saya membantu saya untuk tetap memegang mimpi.
Meskipun gagal memperoleh beasiswa pada tahun 2005, saya tetap melakukan kontak dengan universitas di Belanda yang saya tuju dan saya meminta dukungan dari atasan langsung di kantor. Alhasil di akhir tahun 2007, justru contact person dari pihak universitas yang memberi jalan dengan menunjukkan 2 beasiswa yang mungkin bisa saya ikuti, sekaligus membantu membuatkan rekomendasi dari Fakultas.
Alhamdulillah, akhirnya tahun ajaran ini (2008-2009)saya berhasil mendapatkan beasiswa penuh dari University of Twente, UTS Scholarship Programme.
Intinya bersabar, tetap memegang mimpi dan selalu cari penguatan positif.
Meti K. Prasetyo
metiks at gmail.com
Meti K Prasetyo: Akhirnya Datang Juga!
Perucha Hutagaol: Know Your Limits
Testimoni Perucha Hutagaol
Penerima Beasiswa ADB-JPS
Saya termasuk pencari beasiswa untuk sekolah S2 di luar negeri. Selama 4 tahun saya melamar tapi tidak pernah berhasil, sampai akhirnya saya menemukan milis beasiswa. Dengan milis tersebut saya jadi tahu tata cara dan trik-trik melamar beasiswa, juga lowongan-lowongan apa yang tersedia.
Pembelajaran paling besar bagi saya dalam berburu beasiswa adalah saya harus tahu keterbatasan diri sendiri. Saya bukanlah seorang yang jenius, IP S1 saya hanya 2,9. Latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja saya sangat generik, yaitu marketing. Saya juga bukan dosen, pegawai pemerintah atau bekerja di NGO. Saya tinggal dan besar di Jakarta, bukan berasal dari daerah timur Indonesia. Umur saya 34, setahun lagi sebelum batas maksimal penerima beasiswa umumnya. Keuntungan saya hanyalah saya seorang wanita. Sepertinya dengan segala kegenerikan saya, sangat kecil kemungkinan saya mendapat beasiswa S2 di luar negeri - apalagi untuk mengambil MBA, jurusan yang saya inginkan namun paling generik.
Dengan belajar dari milis beasiswa, saya pun langsung merubah strategi. Saya mencari beasiswa dengan persyaratan yang saya yakini saya bisa masuk kriteria minimum, termasuk menghitung besarnya kemungkinan. Saya berhenti mencari beasiswa yang terlalu banyak pelamarnya seperti ke sekolah di negara-negara Amerika, Eropa atau Australia. Pilihan saya akhirnya jatuh kepada beasiswa dari ADB-JPS (Asian Development Bank – Japan Scholarship Program), dimana beasiswa tersebut mencakup 20 institusi akademis di Asia Pasifik (lihat di http://www.adb.org/JSP/default.asp). Cara melamarnya disesuaikan dengan persyaratan sekolah masing-masing sehingga saya bisa mengukur diri.
Saya memilih Asian Institute of Management (AIM) di Manila, Filipina, karena sekolah tersebut merupakan salah satu sekolah bisnis terbaik di Asia, bahkan di wikipedia disebut sebagai `Harvard of the East'. Kabar baiknya lagi, kantor representatif AIM ada di Jakarta sehingga lebih memudahkan saya dalam mencari informasi dan ujian masuk. Program yang saya lamar adalah Master in Management (MM), sebuah program manajemen tingkat lanjut yang mengutamakan leadership development dengan lama
program hanya 11 bulan.
Persiapan semuanya saya siapkan dengan baik, belajar dari milis dan bertanya langsung kepada member lain. Saya juga membeli buku pelajaran GMAT dan menyediakan waktu khusus untuk belajar setiap hari sebelum ujian.
Puji Tuhan, akhirnya saya diumumkan bahwa saya penerima beasiswa ADB-JPS untuk program Master in Management di AIM. Semua biaya ditanggung, mulai dari tiket pesawat, asrama, asuransi kesehatan, sampai biaya hidup sehari-hari. Sekolah di AIM yang berkualitas tinggi benar-benar merupakan pelajaran yang sangat berharga.
Intinya: know your limit dan tentunya disertai dengan persiapan yang baik dan doa.
Perucha Hutagaol