Early: Jagalah Mimpi Mimpi Itu

Perkenankan saya menceritakan pengalaman saya mendapatkan beasiswa DAAD Program Public Policy and Good Governance.

Saya pertama kali mendapatkan info beasiswa ini dari milis ini (email Saudari Vidya pada bulan Oktober 2008), waktu itu udah mau mepet deadline, yang tanggal 31 Oktober 2008. Wahhh saya cepat-cepat mengirim email ke staf DAAD untuk minta form, mengisinya dan melengkapi segala persyaratan. Berbekal beberapa rancangan proposal yang sudah siap dan berpengalaman mengisi form (hehe soalnya udah seriiiiiing banget kirim tapi belum ada yang lolos waktu itu, jd tetap menjaga mimpi dan menyimpan semua dokumen yang kemungkinan dibutuhkan oleh persyaratan beasiswa) saya akhirnya mengirimkan berkas beasiswa ke DAAD jakarta. Staf DAAD (Ibu Endah Anggoro) sangat membantu saya, beliau ternyata mengecek semua persyaratan setelah berkas dikirim dan di hari terakhir saya ditelpon kalau ternyata saya kurang mengirim ijasah S1 yang berbahasa Indonesia, walhasil saya disarankan men-scan saja dan mengirimkan ke DAAD via email (krn yg dibutuhkan memang hanya copy-an saja).

Saya tunggu beberapa bulan ngga ada kabar dan ketika saya tanya ke Bu Endah memang kita harus nunggu kabar maksimal bulan April, jika sampai bulan April 2009 kita ngga dikirimin email oleh DAAD Bonn, maka kita ngga lolos beasiswa DAAD. Begitulah, saya sabar menunggu saja..karena saya juga sedang dalam proses mengikuti seleksi Program Seminar IAF pada bulan Maret 2009 yang diselenggarakan oleh Freidrich Naumann Stiftung. Program seminar selama 2 minggu ini sebenarnya pernah saya ikuti th 2003 lalu, tp saya mencoba ikut lagi tahun ini dan berhasil lolos 70 besar dan mengikuti seminar online mulai 1 Januari - 1 Februari 2009. Hasil seminar online akan dimumumkan pertengahan Februari 2009 dimana yg perpilih berangkat ke Jerman sebanyak 24 org saja (biasanya masing-masing negara dipilih satu orang) - untuk teknisnya silakan buka website www.fnsindonesia.org

Nah, ketika saya mendapatkan email dari DAAD pada hari jum'at lalu (30 Januari 2009), perasaan saya campur aduk, antara senang, kaget, juga bingung karena begitu mendadak. Saya diharuskan mulai kursus bulan April 2009 di Jerman (belum tahu kotanya dimana) dan sementara bisa mengikuti kursus online bhs jerman terlebih dulu biar ngga blank waktu kesana. Lha tapi dalam website itu semuanya memakai bahasa Jerman, jd saya juga agak kesulitan...mending saya belajar dengan buku hehehe....

Dalam email dari DAAD juga disebutkan kalau saya akan kuliah di University of Osnabrueck, setelah saya lihat di peta memang kota kecil yang justru lebih dekat dengan Belanda. Kota besar terdekat adalah Bremen dan Hamburg. Hari Senin kemarin (2 Feb) saya dan seorang penerima beasiswa (lha dia ini dari lembaga partner saya di Jakarta - The Asia Foundation) ke DAAD menanyakan segala sesuatunya. Dan kami diberi form untuk mengurus visa (yang harus diurus sendiri di Kedutaan Jerman di Jakarta). Jadi sekarang saya dalam proses menunggu medical check up, menunggu surat resmi dari DAAD dan acceptance letter dari universitas untuk mengurus visa. Menurut Bu Endah, aplikasi yang diterima seluruhnya 24 berkas, dan yang dikirimkan ke Jerman (setelah dicermati DAAD Jakarta) hanya 18 berkas dan yang lolos 9 orang termasuk saya:) Mudah-mudahan semuanya lancar....

So far sejauh ini ngga ada kesulitan, proses seleksi adalah murni dari dokumen dan persyaratan yang kita kirimkan. Ngga ada wawancara sama sekali, dan alhamdulillah saya berhasil mendapatkannya setelah berjuang untuk mendapatkan beasiswa ke LN sejak bertahun-tahun lalu:) tapi bagi saya inilah moment yang tepat karena saya memang sudah berniat mengundurkan diri sebagai direktur di lembaga saya (PUPUK dan OSS Center Indonesia) sejak tahun 2004-2008 (5 tahun saya memang agak setengah-setengah mengirim aplikasi beasiawa krn saya masih mikirin kantor saya, bagaimana jika tiba-tiba saya lolos dan meninggalkan kantor sementara saya masih dibutuhkan di lembaga saya? itu yang menjadi beban pikiran saya selama ini). dan saya memang bertekad untuk mnundur dari manajemen kantor sehingga mungkin doa dan usaha saya didengar Allah kali ini, saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan meski masih butuh perjuangan panjang mengatasi berbagai hal yang mungkin menyulitkan saya, karena bahasa pengantar di Univ of Osnabrueck semuanya bahasa Jerman:) jadi saya harus belajar keras selama 6-7 bulan sebelum mulai masuk kuliah bulan Oktober 2009.

Terima kasih atas info dan masukan dari teman-teman milis beasiswa dalam usaha untuk mendapatkan beasiswa ini. Saran saya ke teman-teman yang belum mendapatkan, jangan putus asa, simpan copy semua dokumen yang pernah dikirimkan (karena sangat berguna sekali), buatlah CV yang menarik (hehe saya belajar banyak dan terima kasih sekali pada mas Yudi Ariadi yang sekarang lagi mau ujian thesis di lancaster University di UK:) dan selalu berdoa..yakinlah bahwa waktu yang tepat untk memperoleh apa yang teman-teman inginkan akan datang, jadi jagalah mimpi-mimpi itu, Tuhan pasti akan mengabulkan mimpi itu kalo kita juga berusaha keras untuk mewujudkannya.

Salam,
Early - Surabaya

4 comments:

margatan mengatakan...

Halo, Mas Early ...
Bisa sharing cara membuat CV yang menarik ?
Saat ini saya sedang mencari beasiswa ke LN dan perlu referensi CV untuk applikasi.
Terima kasih

UCI mengatakan...

Hai mbak.. salam kenal...
Saya baru baca blog mbak sekarang, dan rasanya saya dapet semangat lg utk melanjutkan perjuangan saya....
Mungkin sedikit berbeda dg mbak, saya nggak lg daftar beasiswa melainkan daftar program licensing untuk keperawatan di Australi. Prosesnya cukup melahkan dan panjaaaaaaaaaang, semangat naik dan turun dibuatnya, hehehe... Anyway, makasih ya mbak utk semangat yg udh saya dpt dri tulisan mbak...

enyila mengatakan...

nice efforts for students

Dwi Person mengatakan...

Cerita yang sangat menarik dan menggugah semangat.
saya juga berencana untuk meng-apply beasiswa di setiap kesempatan.
kalau boleh di sharing contoh CV dan essay statment yang baik untuk melakukan apply beasiswa seperti DAAD.
Via Japri juga boleh

Thanks

copyright milis beasiswa